EnvyTech — JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada Selasa (2/6/2026), dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan dinamika geopolitik yang terus berlanjut.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, kurs rupiah anjlok 34 poin (0,19%) sehingga mencapai level Rp 17.839 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terpantau turun 0,1% ke angka 99,1.
Sebagai perbandingan, pada perdagangan Senin (1/6/2026), rupiah sempat menguat signifikan 76 poin (0,43%) dan berada di level Rp 17.805 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah kali ini sebagian besar disebabkan oleh sentimen eksternal, terutama perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, pasar menyoroti pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, meskipun sebelumnya ada laporan bahwa Teheran sempat menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington. Kondisi ini menambah ketidakpastian mengenai arah kesepakatan damai.
“Situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis. Ketidakjelasan negosiasi AS–Iran membuat pelaku pasar cenderung hati-hati dan kembali masuk ke aset aman,” ujar Ibrahim di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ibrahim menambahkan, ketegangan di kawasan tersebut semakin memburuk akibat konflik yang melibatkan Lebanon, Israel, dan Iran, yang berpotensi mengganggu jalur energi global. Iran dilaporkan telah membatasi sejumlah pengiriman dari dan ke kawasan Teluk sejak eskalasi konflik, yang turut memengaruhi harga minyak dunia.
Selain isu geopolitik, Ibrahim menyebut bahwa pasar juga merespons kebijakan perdagangan AS. Ia menyoroti keputusan Trump yang menandatangani proklamasi perubahan tarif impor untuk komoditas seperti tembaga, aluminium, dan besi.
"Kebijakan tersebut mencakup penyesuaian tarif pada sejumlah peralatan industri, yang menurut Gedung Putih bertujuan mendorong investasi jangka pendek untuk memperkuat basis industri domestik AS hingga 2027," tambahnya.
Dari sisi domestik, Ibrahim mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih dibayangi kondisi makroekonomi Indonesia yang relatif stabil namun tetap rentan terhadap gejolak eksternal. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Mei 2026 sebesar 3,08% (yoy), dengan inflasi bulanan 0,28% dan year-to-date sebesar 1,35%.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan. S&P Global mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026, yang menandai kembalinya sektor tersebut ke zona ekspansi setelah sempat terkontraksi.
Perbaikan ini ditopang oleh meningkatnya permintaan domestik dan kenaikan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut, dengan laju tercepat sejak Februari 2026. "Namun, sektor industri masih menghadapi tekanan biaya bahan baku dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi," kata Ibrahim.
Sementara itu, BPS juga mencatat neraca perdagangan Indonesia masih surplus pada April 2026, dengan akumulasi Januari–April mencapai US$ 5,64 miliar. Capaian tersebut memperpanjang tren surplus menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, meski tekanan global belum mereda.
"Untuk perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp 17.840 – 17.900 per dolar AS," tutup Ibrahim.
Ikuti EnvyTech
