EnvyTech — JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dikhawatirkan akan memicu lonjakan harga barang impor serta meningkatkan tekanan inflasi. Situasi ini diperkirakan dapat mendorong Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan di bulan Juni 2026.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa, 2 Juni 2026, pukul 14.05 WIB, nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat melemah 29,5 poin atau 0,17%, mencapai posisi Rp 17.834,5 per dolar AS. Kondisi ini berbalik arah dari perdagangan hari sebelumnya, Senin, 1 Juni 2026, di mana rupiah sempat menguat 76 poin atau 0,43% dan ditutup pada level Rp 17.805 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat komoditas dan mata uang, menyatakan bahwa depresiasi rupiah berpotensi mengakibatkan kenaikan harga berbagai komoditas impor. Komoditas ini, mulai dari bahan pangan hingga bahan baku industri, masih menjadi penopang utama kebutuhan domestik.
“Komoditas impor seperti kacang kedelai, jagung, serta pupuk, tentu akan merasakan dampak negatifnya. Perlu diingat bahwa sebagian besar barang kebutuhan di dalam negeri merupakan produk impor,” jelas Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa, 2 Juni 2026.
Menurut Ibrahim, lonjakan harga barang impor perlu diwaspadai karena berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi. Jika tekanan inflasi menguat, Bank Indonesia kemungkinan besar akan kembali menerapkan kebijakan pengetatan moneter guna menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.
“Situasi ini sangat mungkin berdampak pada inflasi. Apabila inflasi meningkat, Bank Indonesia kemungkinan besar akan kembali menaikkan suku bunga,” imbuh Ibrahim.

Laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi bulanan pada Mei 2026 mencapai 0,28%, angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi April 2026 yang sebesar 0,13%. Kajian BPS mengindikasikan bahwa inflasi tersebut didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah, minyak goreng, dan bawang merah. Selain itu, sektor transportasi juga berkontribusi pada inflasi seiring dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur.
Ibrahim memproyeksikan bahwa kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berpeluang terjadi pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di bulan Juni 2026. “Sangat mungkin Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 basis poin dalam pertemuan di bulan Juni ini,” tuturnya.
Produsen Mulai Naikkan Harga Produk
Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Mei 2026, bank sentral telah memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Sejalan dengan itu, suku bunga deposit facility juga naik menjadi 4,25%, sementara lending facility meningkat ke 6,00%.
Saat ini, para pelaku pasar tengah mencermati arah kebijakan yang akan diambil Bank Indonesia pada pertemuan berikutnya. Keputusan bank sentral diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh dinamika nilai tukar rupiah, tingkat inflasi domestik, harga minyak dunia, serta pergerakan arus modal asing.
Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah pada awal Juni masih bersumber dari kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS terus memberikan beban pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara itu, dari dalam negeri, tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak dan sejumlah komoditas strategis turut memperkuat tekanan terhadap rupiah. Apabila kondisi ini berlanjut, biaya produksi berpotensi mengalami peningkatan, yang pada akhirnya dapat mengurangi daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pelaku industri menghadapi tantangan signifikan akibat melonjaknya biaya input. S&P Global melaporkan bahwa inflasi biaya bahan baku telah mencapai level tertinggi sepanjang sejarah survei PMI manufaktur Indonesia.
Untuk menjaga keberlangsungan operasional, banyak perusahaan mulai membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen. Akibatnya, harga jual produk di tingkat produsen meningkat dengan laju tercepat sejak Oktober 2013.

Selain permasalahan harga, efisiensi operasional pabrik juga terhambat oleh ketersediaan bahan baku yang terbatas. Kondisi ini menyebabkan penumpukan pekerjaan atau backlog untuk pertama kalinya sejak Februari 2026, karena perusahaan kesulitan menyelesaikan pesanan sesuai target. Meskipun demikian, kepercayaan bisnis pelaku industri terpantau sedikit membaik, meskipun secara umum masih berada pada level yang rendah.
Berdasarkan laporan terbaru S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat berada di level 50,0. Angka ini menunjukkan pemulihan tipis dibandingkan April 2026 yang berada di posisi 49,1, yang merupakan titik terendah dalam sepuluh bulan terakhir.
Ikuti EnvyTech
