EnvyTech — JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Selasa (2/6/2026) siang, memicu kekhawatiran serius terhadap daya beli masyarakat. Selain berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor, depresiasi mata uang Garuda juga dapat meningkatkan tekanan inflasi yang pada akhirnya memberatkan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Menurut data Bloomberg di pasar spot, mata uang Garuda anjlok 63,5 poin atau 0,36% mencapai Rp17.868,5 per dolar AS pada pukul 11.38 WIB. Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya, Senin (1/6/2026), rupiah sempat menguat signifikan. Di sisi lain, indeks dolar AS tercatat melemah 0,03% ke 99,17.
Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah disebabkan oleh gabungan sentimen global dan domestik. Secara eksternal, pasar global tengah memperhatikan eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang mendorong para investor untuk mencari aset-aset aman seperti dolar AS.
Menurut Ibrahim, ketidakpastian seputar hubungan Amerika Serikat dan Iran, ditambah konflik antara Israel dan Lebanon, menyebabkan pelaku pasar menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini, lanjut Ibrahim pada Selasa (2/6/2026), pada akhirnya akan berdampak langsung pada masyarakat. Hal ini karena banyak kebutuhan pokok dan bahan baku industri di Indonesia masih sangat bergantung pada impor.
Ibrahim menguraikan, komoditas seperti kedelai, jagung, pupuk, serta beragam bahan baku industri berpotensi mengalami lonjakan harga jika rupiah terus tertekan. Situasi ini, pada gilirannya, dapat memicu peningkatan harga barang konsumsi di pasar.
Selain faktor geopolitik, tekanan tambahan bagi perekonomian domestik juga datang dari kenaikan harga minyak mentah global. Sebagai negara importir minyak, Indonesia memerlukan lebih banyak dolar AS saat harga energi dunia melonjak.
Menurut Ibrahim, besarnya kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi menjaga permintaan dolar tetap tinggi, sehingga memperberat tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Ia menambahkan, “Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah berpotensi memengaruhi biaya produksi serta distribusi. Apabila kondisi ini berlanjut dalam jangka panjang, harga barang-barang kebutuhan pokok masyarakat berisiko meningkat.”
Ibrahim juga berpendapat bahwa kelompok masyarakat menengah ke bawah akan menjadi pihak yang paling rentan terdampak, mengingat porsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan pokok relatif lebih besar dibandingkan kelompok berpenghasilan lainnya.
Lebih lanjut, Ibrahim mengingatkan bahwa depresiasi rupiah berpotensi memicu peningkatan tekanan inflasi. Apabila inflasi terus melonjak, ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter akan semakin terbatas.
Menurutnya, bank sentral kemungkinan besar akan terus memantau perkembangan inflasi dan stabilitas nilai tukar secara cermat sebelum memutuskan langkah kebijakan selanjutnya.
Ibrahim menekankan, “Saat harga barang-barang naik dan daya beli masyarakat menurun, pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga berpotensi melambat. Ini adalah aspek yang perlu diwaspadai, mengingat konsumsi rumah tangga masih merupakan pilar utama penopang ekonomi nasional.”
Para pelaku pasar saat ini tengah menanti perkembangan konflik di Timur Tengah, fluktuasi harga minyak dunia, serta strategi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.
Ikuti EnvyTech
