EnvyTech — JAKARTA – Aktivitas jual bersih (net sell) oleh investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatatkan nilai signifikan pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Sejumlah saham unggulan seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi target utama pelepasan kepemilikan oleh investor global.
Pada hari tersebut, total jual bersih investor asing di seluruh segmen pasar mencapai Rp 1,39 triliun. Angka ini menambah akumulasi net sell asing sepanjang tahun berjalan hingga menembus Rp 55,3 triliun, menurut data resmi BEI.
Saham TPIA mengalami tekanan jual bersih terbesar di pasar reguler, mencapai Rp 253,6 miliar. Selain TPIA, saham ASII juga dilepas secara masif dengan net sell senilai Rp 228,6 miliar. Sementara itu, saham BRPT dan PTRO turut menjadi sasaran jual bersih, masing-masing dengan nilai Rp 156 miliar dan Rp 106,8 miliar.
Di sisi lain, saham PT Antam Tbk (ANTM) justru menjadi primadona dengan pembelian bersih (net buy) oleh investor asing mencapai Rp 108,6 miliar.
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan dengan penguatan signifikan, melonjak 68,05 poin atau 1,1% ke level 6.195,4. Pergerakan pasar menunjukkan 295 saham menguat, 410 saham melemah, dan 254 saham tidak bergerak. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp 25,3 triliun.
Beberapa sektor saham mencatat kenaikan pada penutupan pasar, dengan sektor energi memimpin penguatan sebesar 1,6%. Disusul oleh sektor barang baku yang naik 1,3%, sektor infrastruktur 0,6%, dan sektor keuangan 0,2%. Kontras dengan itu, sektor transportasi mengalami pelemahan paling dalam sebesar 3,3%, diikuti oleh sektor kesehatan 2,2%, sektor teknologi 1,08%, sektor properti 1,04%, sektor perindustrian 0,6%, sektor barang konsumen non-primer 0,2%, dan sektor barang konsumen primer 0,09%.
Pergerakan IHSG diyakini dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi domestik yang menunjukkan sinyal positif. Aktivitas manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ekspansi, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang meningkat menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada April 2026.
Selain itu, data inflasi Mei 2026 dilaporkan tetap terkendali, dengan angka bulanan 0,28% dan tahunan 3,08%. Angka ini masih berada dalam rentang target Bank Indonesia, yakni 2,5% plus minus 1%.
Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 juga mencatatkan surplus sebesar US$ 90 juta, meskipun lebih rendah dari bulan sebelumnya. Surplus ini didukung oleh nilai ekspor sebesar US$ 25,4 miliar dan impor US$ 25,3 miliar.
Namun, sentimen pasar global masih dibayangi oleh kekhawatiran akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, yang berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia. Situasi semakin tidak menentu menyusul laporan mengenai penangguhan pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat, kendati Presiden AS Donald Trump menyatakan negosiasi masih berlangsung.
Ikuti EnvyTech
