EnvyTech — NEW YORK – Pasar saham Wall Street menunjukkan performa luar biasa pada sesi perdagangan awal Juni, Senin (1/6/2026). Tiga indeks acuan utama di Amerika Serikat (AS) secara serentak mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH), didorong oleh lonjakan saham-saham teknologi, terutama yang dipimpin oleh Nvidia.
Indeks S&P 500 tercatat naik 0,26%, mengakhiri perdagangan pada 7.599,96. Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 0,42% ke level 27.086,81, dan Dow Jones Industrial Average membukukan kenaikan 46,42 poin atau 0,09% menjadi 51.078,88. Perlu dicatat, ketiga indeks tersebut tidak hanya mencetak rekor penutupan tertinggi, namun juga sempat mencapai rekor tertinggi intraday dalam sesi perdagangan hari itu.
Katalis utama penguatan pasar datang dari saham Nvidia yang melesat lebih dari 6% menyusul peluncuran prosesor terbarunya untuk komputer pribadi (PC). Lonjakan saham produsen chip ini turut mengangkat performa Dell Technologies yang melonjak lebih dari 10% dan HP Inc yang menguat lebih dari 8%. Di sisi lain, Intel, yang sebelumnya mendominasi pasar chip PC selama bertahun-tahun, mengalami koreksi lebih dari 4%.
Selain sektor teknologi, sektor energi menjadi satu-satunya segmen lain di S&P 500 yang menunjukkan penguatan signifikan. Saham Marathon Petroleum menguat sekitar 4%, disusul oleh Exxon Mobil dan Chevron yang masing-masing naik 2,8% dan 1,9%. Kenaikan saham-saham energi ini sejalan dengan melonjaknya harga minyak mentah global. Harga kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak 5,93% menjadi US$ 92,54 per barel, sementara minyak Brent menguat 4,24% mencapai US$ 94,98 per barel.
Peningkatan harga minyak ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Laporan dari media pemerintah Iran menyebutkan bahwa perwakilan negara itu telah menghentikan komunikasi dengan Amerika Serikat (AS). Teheran juga dikabarkan berencana menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan atas serangan Israel di Lebanon.
Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang bervariasi mengenai dinamika hubungan dengan Iran. Dalam sebuah wawancara, Trump menegaskan ketidakpeduliannya jika dialog damai dengan Iran berakhir, menyatakan, “Saya benar-benar tidak peduli. Sama sekali tidak peduli.” Ia juga berencana meminta klarifikasi langsung dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait situasi di Lebanon, dengan mengatakan, “Saya akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di Lebanon.” Namun, selang beberapa jam, melalui platform Truth Social, Trump mengklaim telah melakukan diskusi yang sangat produktif dengan Netanyahu. “Saya baru saja melakukan pembicaraan yang sangat produktif. Tidak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut, dan pasukan yang sebelumnya dalam perjalanan telah diperintahkan untuk kembali,” tulisnya. Dalam unggahan lain, Trump menambahkan bahwa negosiasi dengan Iran masih berjalan dengan cepat: “Pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dengan sangat cepat.”
Meskipun demikian, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi perhatian pasar setelah adanya laporan saling serang antara AS dan Iran pada akhir pekan sebelumnya. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya berhasil mencegat dua rudal balistik Iran yang menargetkan personel militer AS di Kuwait. Walau demikian, para investor cenderung melihat potensi deeskalasi lebih besar dibandingkan risiko eskalasi konflik yang memburuk. Bahkan, pada pekan sebelumnya, negosiator AS dan Iran telah mencapai nota kesepahaman berdurasi 60 hari untuk memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya rapuh.
Tim Holland, Chief Investment Officer Orion, berpendapat bahwa pasar tidak mengantisipasi konflik akan kembali memanas seperti pada awal perang. “Hubungan AS dan Iran saat ini dapat digambarkan sebagai dua langkah maju dan satu langkah mundur. Namun, yang pasti, pasar tidak memprediksi konflik akan kembali memanas seperti yang terjadi dalam dua hingga tiga minggu pertama,” jelas Holland. Menurutnya, investor masih meyakini bahwa situasi saat ini lebih mendekati penyelesaian daripada eskalasi konflik yang lebih besar. Ia menambahkan, “Kita masih lebih dekat ke jalur penyelesaian konflik daripada menuju eskalasi baru.”
Ikuti EnvyTech
