EnvyTech — Kabar kurang menyenangkan datang bagi para gamer, kreator konten, hingga perakit PC. NVIDIA dan AMD dikabarkan akan melakukan penyesuaian harga kartu grafis atau GPU secara bertahap sepanjang tahun 2026. Lonjakan harga tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya pada sektor memori VRAM, serta tingginya permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat.
Fenomena ini diperkirakan akan membuat harga berbagai kartu grafis konsumen menjadi semakin mahal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan sejumlah analis industri memperkirakan model kelas atas seperti NVIDIA RTX 5090 dapat menembus harga hingga USD 5.000 pada akhir 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan harga peluncurannya.
Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pengguna yang berencana melakukan upgrade PC gaming maupun workstation dalam waktu dekat.
Lonjakan Harga VRAM Jadi Pemicu Utama
Berbeda dengan krisis GPU beberapa tahun lalu yang dipengaruhi kelangkaan chip semikonduktor, kenaikan harga kali ini lebih banyak disebabkan oleh melonjaknya biaya memori.
Komponen VRAM kini menjadi salah satu elemen paling mahal dalam proses produksi kartu grafis modern. Permintaan terhadap memori berkecepatan tinggi seperti GDDR6, GDDR7, hingga High Bandwidth Memory (HBM) terus meningkat seiring pesatnya perkembangan teknologi AI generatif dan pusat data.
Beberapa produsen memori terbesar dunia seperti Samsung dan SK Hynix dilaporkan menghadapi tekanan permintaan yang sangat tinggi. Kapasitas produksi yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan pasar secara penuh.
Akibatnya, harga berbagai jenis memori mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir dan diprediksi terus meningkat sepanjang 2026.
Industri AI Serap Pasokan Memori Global
Salah satu faktor terbesar di balik kenaikan harga GPU adalah ledakan investasi pada sektor kecerdasan buatan.
Perusahaan teknologi di seluruh dunia berlomba membangun pusat data AI yang membutuhkan GPU berkinerja tinggi dalam jumlah besar. Untuk mendukung performa tersebut, diperlukan pasokan memori berkapasitas besar dan bandwidth tinggi.
Kondisi ini membuat produsen memori lebih memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan AI yang menawarkan keuntungan lebih tinggi dibandingkan pasar GPU konsumen.
Akibatnya, ketersediaan memori untuk kartu grafis gaming menjadi semakin terbatas. Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan inilah yang akhirnya mendorong kenaikan harga di pasar global.
NVIDIA dan AMD Diprediksi Naikkan Harga Bertahap
Laporan dari sejumlah sumber industri menyebutkan bahwa AMD diperkirakan menjadi perusahaan pertama yang menerapkan penyesuaian harga mulai Januari 2026.
Sementara itu, NVIDIA diperkirakan mulai melakukan langkah serupa pada Februari 2026. Kenaikan harga disebut tidak dilakukan sekaligus, melainkan bertahap sepanjang tahun mengikuti kondisi pasokan komponen.
Strategi tersebut memungkinkan kedua perusahaan menyesuaikan harga dengan biaya produksi yang terus berubah tanpa menimbulkan guncangan besar di pasar.
Meski demikian, konsumen tetap harus bersiap menghadapi harga GPU yang semakin tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
RTX 5090 Berpotensi Menjadi GPU Konsumen Termahal
Salah satu produk yang paling banyak disorot adalah NVIDIA RTX 5090.
Kartu grafis flagship tersebut pertama kali diperkenalkan dengan harga resmi sekitar USD 1.999. Namun, berbagai laporan memperkirakan harga jual di pasaran dapat terus meningkat hingga mencapai USD 5.000 pada akhir 2026.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh tingginya biaya komponen, permintaan pasar premium, serta terbatasnya pasokan memori yang dibutuhkan untuk GPU kelas atas.
Tidak hanya RTX 5090, beberapa model custom dari produsen add-in-board seperti ASUS dan MSI juga dilaporkan telah mengalami kenaikan harga signifikan di sejumlah wilayah.
GPU Kelas Menengah dan Entry-Level Ikut Terdampak
Dampak kenaikan harga tidak hanya dirasakan oleh pengguna kelas premium. Segmen menengah hingga entry-level juga mulai menunjukkan tren serupa.
Beberapa model seperti NVIDIA GeForce RTX 3050, RTX 5050, hingga RTX 5060 Ti diperkirakan mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya biaya produksi.
Bahkan terdapat laporan bahwa NVIDIA mempertimbangkan pengurangan produksi beberapa GPU kelas menengah untuk mengalihkan pasokan VRAM ke produk AI yang memiliki margin keuntungan lebih tinggi.
Jika langkah tersebut benar-benar dilakukan, ketersediaan GPU gaming di pasaran bisa semakin terbatas dan berpotensi mendorong harga naik lebih jauh.
Gamer dan Perakit PC Hadapi Tantangan Baru
Tahun 2026 diprediksi menjadi periode yang cukup berat bagi pasar GPU konsumen. Tingginya permintaan dari sektor AI membuat persaingan mendapatkan komponen memori semakin ketat.
Bagi gamer dan perakit PC, kondisi ini berarti biaya upgrade perangkat kemungkinan akan meningkat secara signifikan. Sementara itu, bagi NVIDIA dan AMD, tren AI justru membuka peluang bisnis yang lebih besar meski berdampak pada harga produk konsumen.
Dengan situasi yang masih terus berkembang, para pengguna disarankan mempertimbangkan waktu pembelian dengan cermat sebelum harga GPU kembali mengalami kenaikan dalam beberapa bulan mendatang.
Ikuti EnvyTech
