EnvyTech — JAKARTA – Sektor perusahaan pembiayaan, atau multifinance, gencar memperkokoh strategi pendanaan mereka di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang kini mencapai 5,25%. Berbagai pelaku industri memilih diversifikasi sumber dana sebagai langkah utama untuk menjaga stabilitas likuiditas sekaligus menopang pertumbuhan pembiayaan di tengah gejolak pasar.
Sumber-sumber pendanaan bagi multifinance meliputi pinjaman dari perbankan, emisi surat utang, serta skema pembiayaan bersama (joint financing). Peningkatan BI Rate diprediksi akan diikuti oleh kenaikan bunga pinjaman bank, sementara imbal hasil (yield) obligasi atau sukuk perlu ditawarkan lebih kompetitif untuk menarik investor. Konsekuensinya, biaya dana yang ditanggung multifinance diperkirakan akan turut meningkat.
Sylvanus Gani K.M, Chief Financial Officer (CFO) PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), menyatakan bahwa likuiditas perusahaan saat ini sangat mencukupi untuk menopang operasional dan pengembangan usaha. Ia menambahkan, meskipun suku bunga tinggi tetap menjadi tantangan serius bagi sektor pembiayaan, Adira Finance berkomitmen menjaga harmonisasi antara laju pertumbuhan pembiayaan, kebutuhan pembiayaan, serta manajemen risiko likuiditas secara hati-hati (prudent).
Gani mengungkapkan, “Dengan dukungan sumber pendanaan yang terdiversifikasi, kami berharap dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan konsumen secara berkelanjutan.” Pernyataan ini disampaikannya akhir pekan lalu.
Gani memaparkan bahwa hingga kini, perusahaan berkode saham ADMF tersebut memanfaatkan beragam sumber pendanaan, mulai dari fasilitas pinjaman bank baik domestik maupun internasional, penerbitan obligasi dan sukuk, hingga sokongan dari entitas induk dan grup, yaitu Bank Danamon dan MUFG. Adira Finance juga terus mempertimbangkan opsi-opsi pendanaan baru yang selaras dengan keperluan bisnis dan dinamika pasar.
Ia melanjutkan, “Terkait alternatif pendanaan di luar sumber yang telah berjalan saat ini, perusahaan tetap terbuka untuk mengevaluasi berbagai opsi pendanaan lain yang sesuai dengan kondisi pasar, kebutuhan pendanaan, serta profil risiko perusahaan.”
Sementara itu, pasar obligasi, yang selama ini berperan sebagai pilar pendanaan penting bagi multifinance, menghadapi sejumlah tantangan. Gani menjelaskan bahwa dari awal tahun hingga Februari 2026, pasar obligasi relatif stabil, ditandai dengan tingkat bunga yang kompetitif dan respons investor yang baik. Namun, situasi ini kini mulai dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga, fluktuasi imbal hasil (yield) obligasi, serta pandangan investor terhadap kondisi makroekonomi.
“Pasar obligasi masih menjadi alternatif pendanaan yang penting bagi industri multifinance. Namun pelaksanaan penerbitan ke depan akan sangat bergantung pada momentum pasar yang optimal dan kebutuhan pendanaan masing-masing perusahaan,” ujarnya.
Senada dengan pandangan tersebut, Sudjono, Direktur Keuangan PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), menegaskan bahwa likuiditas perusahaannya tetap solid meskipun di tengah tekanan suku bunga tinggi. Bahkan, perseroan telah mengalokasikan dana lebih dari Rp2,5 triliun untuk melunasi obligasi dan membayarkan dividen yang akan jatuh tempo pada Juni 2026.
Ia menjelaskan, hingga saat ini, BFI Finance mengandalkan tiga sumber pendanaan utama: pinjaman perbankan, penerbitan obligasi, dan pembiayaan bersama (joint financing). Kendati demikian, perusahaan masih memantau pergerakan pasar secara saksama sebelum kembali menerbitkan obligasi. Sudjono menyatakan, “Kami masih mengamati kondisi market terkait penerbitan obligasi karena cukup fluktuatif belakangan ini.”
Dalam aspek bisnis, BFI Finance senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. Sudjono menambahkan, “Perusahaan selalu selektif dalam pembiayaan, dan mengikuti perkembangan pasar dan diselaraskan dengan kondisi kualitas aset perseroan.”
Semester II
Adira Finance tetap menunjukkan optimisme terhadap kelanjutan pertumbuhan pembiayaan baru hingga penghujung tahun, menyusul capaian kinerja positif di kuartal I-2026. Namun, perseroan tidak menampik adanya berbagai tantangan yang masih membayangi sektor ini, termasuk dinamika ekonomi global dan domestik, daya beli konsumen, serta perkembangan industri otomotif.
Oleh karena itu, Gani menegaskan, “perusahaan akan terus memperkuat pengelolaan margin secara disiplin, melakukan diversifikasi sumber pendanaan, serta meningkatkan efisiensi biaya operasional.”
ADMF secara konsisten mengaplikasikan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan, baik di tengah kondisi ekonomi yang sulit maupun stabil. Hal ini tercermin dari rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) Adira Finance yang berada di angka 1,9% per Maret 2026, menandakan kualitas portofolio pembiayaan yang tetap terkendali meskipun industri menghadapi tekanan suku bunga tinggi.
Gani menjelaskan, “Dalam menghadapi dinamika pasar saat ini, kami terus memperkuat kualitas proses underwriting dan pemantauan portofolio untuk memastikan pertumbuhan pembiayaan tetap sehat. Dengan demikian, fokus kami bukan semata-mata menjadi lebih selektif, melainkan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset.”
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa piutang pembiayaan multifinance hanya tumbuh 0,61% secara tahunan (year on year/yoy) per Maret 2026. Angka ini menandakan perlambatan dibandingkan Februari 2026 yang masih mencatat pertumbuhan 1,01% (yoy). Meskipun melambat, pertumbuhan ini masih didukung oleh kenaikan pembiayaan modal kerja sebesar 6,15% (yoy), yang berperan sebagai salah satu faktor penahan laju perlambatan industri multifinance.
Pertumbuhan tersebut merefleksikan dinamika industri yang masih menghadapi tekanan pada permintaan pembiayaan. Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, menyatakan, “Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 0,61% secara year on year (yoy) pada Maret 2026 menjadi Rp514,09 triliun.”
Dari aspek risiko, NPF gross perusahaan pembiayaan mengalami peningkatan menjadi 2,83% pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di 2,78%, dan akhir 2025 di posisi 2,51%. Di sisi lain, NPF net tercatat relatif stabil pada level 0,8% di kuartal I-2026. Dengan tren kenaikan suku bunga, diprediksi akan terjadi perlambatan pertumbuhan pembiayaan dan potensi penurunan kualitas aset akibat berkurangnya kemampuan bayar masyarakat.
Ikuti EnvyTech
