— JAKARTA – Bank investasi global UBS telah merilis tinjauan terbaru mengenai pasar komoditas. Meskipun ketidakpastian akibat perseteruan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat, UBS melihat adanya potensi kenaikan harga emas, minyak, dan logam dasar untuk periode jangka menengah hingga panjang.

Menurut Giovanni Staunovo, seorang analis komoditas di UBS, dinamika relasi AS-Iran saat ini memegang peranan krusial dalam menentukan pergerakan pasar komoditas dunia. Kendati demikian, Staunovo menyoroti bahwa di balik gejolak geopolitik, fundamental beberapa komoditas tetap solid.

Dalam laporan riset terbaru yang diterbitkan oleh UBS, Staunovo menulis, “Komoditas dapat membantu investor melakukan lindung nilai terhadap inflasi dan gangguan pasokan energi.”

Ia menambahkan, lonjakan harga komoditas sepanjang tahun ini mengindikasikan bahwa para investor terus mencari aset yang tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi dan situasi geopolitik. Berdasarkan data indeks UBS CMCI Composite Total Return, sektor komoditas secara keseluruhan telah mengalami peningkatan lebih dari 20% sejak awal tahun 2026.

UBS mempertahankan penilaian positif terhadap prospek jangka menengah emas, meskipun harga logam mulia ini belum mencapai rekor tertinggi sebelumnya.

Harga emas saat ini tercatat sekitar 16% di bawah puncak penutupan historisnya yang terjadi pada Januari. Tekanan terhadap harga emas datang dari beberapa faktor, termasuk ekspektasi suku bunga yang masih tinggi, penguatan nilai tukar dolar AS, dan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Kendati demikian, UBS mengidentifikasi sejumlah elemen struktural yang diperkirakan akan terus mendukung harga emas.

Staunovo menjelaskan, “Dalam jangka menengah, kami memperkirakan emas akan bergerak lebih tinggi di tengah tingginya beban utang global, defisit fiskal AS yang terus berlanjut, dan tren diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral.”

Sebelumnya, UBS telah melakukan penyesuaian target harga emas untuk akhir tahun 2026, menurunkannya dari US$ 5.900 menjadi US$ 5.500 per ons troi. Walaupun proyeksi ini lebih rendah dari estimasi sebelumnya, nilai tersebut masih sekitar US$ 1.000 di atas harga emas yang berlaku saat ini.

Dominic Schnider dan Wayne Gordon, dua analis dari UBS, mengemukakan bahwa para investor kini kembali menimbang biaya peluang karena suku bunga riil tetap berada di level tinggi. Mereka menulis, “Karakteristik emas yang tidak memberikan imbal hasil kembali menjadi pertimbangan penting ketika suku bunga riil bertahan tinggi.”

Meskipun demikian, UBS menegaskan bahwa tren penguatan jangka panjang untuk emas belum usai. Institusi keuangan tersebut memperkirakan bahwa kebijakan moneter yang lebih netral pada tahun 2027 berpotensi menyebabkan pelemahan dolar AS dan pada gilirannya akan kembali membangkitkan minat investor pada emas.

Selain prospek emas, UBS juga menunjukkan optimisme terhadap masa depan minyak serta logam dasar, termasuk tembaga dan aluminium.

Menurut Staunovo, tingkat persediaan produk minyak di sejumlah negara masih tergolong rendah, sebuah kondisi yang berpotensi mendorong kenaikan harga sebelum pasokan kembali stabil. Ia menyatakan, “Persediaan produk minyak yang rendah dapat memerlukan harga yang lebih tinggi untuk menyeimbangkan permintaan sebelum stok terisi kembali.”

UBS juga memproyeksikan bahwa pasar tembaga dan aluminium akan mengalami defisit pasokan dalam beberapa tahun mendatang. Situasi ini dipercaya akan menjadi faktor pendukung utama kenaikan harga kedua komoditas tersebut.

Dari sisi permintaan, tren elektrifikasi global dipandang akan terus mendorong peningkatan kebutuhan akan logam dasar, khususnya untuk kendaraan listrik, jaringan distribusi listrik, dan infrastruktur energi terbarukan. UBS berpendapat bahwa komoditas masih merupakan pilihan investasi yang relevan pada tahun 2026, mengingat korelasinya yang relatif rendah dengan saham dan obligasi.

Bagi para investor yang cenderung berfokus pada emas, UBS menyarankan untuk melakukan diversifikasi ke komoditas lain seperti tembaga, aluminium, dan sektor pertanian, dengan tujuan memperluas potensi sumber imbal hasil. Staunovo mengemukakan, “Komoditas dapat mengalami volatilitas, tetapi juga berperan penting dalam portofolio karena secara historis memiliki korelasi rendah dengan saham dan obligasi.”

Menurut analisis UBS, meskipun premi risiko geopolitik yang timbul dari konflik di Timur Tengah pada akhirnya diperkirakan akan mereda, gabungan dari faktor-faktor fundamental, risiko inflasi, dan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan masih berpotensi mempertahankan tren kenaikan harga berbagai komoditas untuk beberapa tahun ke depan.