— JAKARTA – PT Temas Tbk (TMAS), perusahaan yang bergerak di sektor jasa transportasi laut (armada kapal dan kontainer), akan membagikan dividen senilai Rp 228 miliar. Pembagian ini setara dengan Rp 4 per saham, mewakili sekitar 40% dari laba bersih untuk tahun buku 2025.

Ricky Effendi, Direktur Utama TMAS, menjelaskan bahwa perusahaan memiliki kebijakan rutin untuk mendistribusikan dividen tunai kepada seluruh pemegang saham setidaknya satu kali dalam setahun. Menurut ketentuan perseroan, rasio pembayaran dividen ditetapkan sebesar 30% dari laba bersih tahun berjalan, dengan syarat laba bersih melampaui Rp 30 miliar.

“Jumlah dividen untuk tahun buku 2025 telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST),” terang Ricky saat sesi paparan publik setelah RUPST berlangsung di Jakarta pada Selasa, 2 Juni 2026.

Ricky menambahkan, dalam menghadapi tahun 2026, TMAS sangat optimis untuk melanjutkan pilar-pilar strategi yang telah ditetapkan. Berbagai inisiatif strategis, termasuk penambahan dan peremajaan armada, serta pengembangan kapal yang lebih ramah lingkungan, akan terus menjadi prioritas.

Pada tahun 2025, TMAS berhasil menambah tujuh unit kapal baru secara netto, yang berkontribusi pada peningkatan kapasitas angkut sebesar 17%. Kini, total armada perseroan berjumlah 57 unit kapal, dengan kapasitas angkut mencapai 28.542 TEUs dan bobot mati sebesar 464.701 DWT.

Di samping itu, rata-rata usia armada menunjukkan perbaikan signifikan, menurun dari 15 tahun pada 2023 menjadi 14 tahun di 2024, dan selanjutnya menjadi 13 tahun pada 2025.

“TMAS secara konsisten memperkuat ekspansi bisnisnya di tengah pertumbuhan positif industri angkutan kontainer nasional. Dalam rangka menopang pengembangan kapasitas operasional, TMAS telah mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 2,5 triliun untuk tahun 2026,” papar Ganny Zheng, Direktur Business Development TMAS.

Mayoritas dari anggaran capex tersebut akan digunakan untuk pembelian kapal baru demi meningkatkan kapasitas angkutan, peremajaan armada, pengadaan peralatan pendukung operasional pelabuhan, serta pembangunan infrastruktur pelabuhan.

“Perusahaan berkomitmen penuh untuk melanjutkan ekspansi armada sebagai bagian integral dari strategi skalabilitas operasional kami. Prioritas utama kami adalah peningkatan kapasitas layanan, seraya tetap menjaga efisiensi dan daya saing perusahaan,” tegas Ganny.

TMAS juga sedang dalam tahap persiapan operasional pabrik LNG yang direncanakan akan mulai berproduksi pada semester II-2026. Di samping itu, perseroan aktif memperluas layanan logistik terintegrasi dan melanjutkan kemitraan BOT (Build-Operate-Transfer) dengan PT Pelindo Terminal Petikemas untuk memperpanjang dermaga di Tanjung Priok dari 340 meter menjadi 485 meter, yang menjadi landasan bagi peningkatan kapasitas jangka panjang.

Untuk tahun ini, TMAS mematok target pendapatan jasa sebesar Rp 5,53 triliun, mencerminkan pertumbuhan lebih dari 27% dibandingkan capaian pendapatan tahun 2025 yang berada di angka Rp 4,34 triliun.

Guna mencapai target tersebut, TMAS berencana mengoptimalkan ekspansi kapasitas yang telah berjalan, menjadikannya pendorong utama pertumbuhan perusahaan. Strategi ini mencakup pembukaan rute-rute baru dan peningkatan load factor pada setiap armada.

Mengenai dinamika geopolitik global, TMAS menyatakan akan tetap waspada dan terus memantau perkembangan, termasuk ketegangan yang terjadi di Timur Tengah. Meskipun situasi ini tidak memberikan dampak langsung pada operasional bisnis TMAS, kondisi geopolitik internasional merupakan salah satu faktor yang dapat memicu volatilitas harga bahan bakar dan mempengaruhi dinamika rantai pasok di seluruh dunia.

TMAS berhasil membukukan kinerja yang stabil sepanjang tahun buku 2025, meskipun dihadapkan pada beragam tantangan. Total pendapatan jasa tercatat sebesar Rp 4,34 triliun, mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1% atau sekitar Rp 4 miliar dibandingkan perolehan tahun 2024.

Peningkatan ini didominasi oleh pertumbuhan segmen pendapatan domestik, yang melonjak menjadi Rp 4,13 triliun, atau tumbuh 2,5% dari Rp 4,03 triliun pada tahun 2024.

Sementara itu, dari aspek profitabilitas, laba bersih tahun 2025 tercatat sebesar Rp 553 miliar, mengalami penurunan 23,3% dibandingkan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp 722 miliar.

Penurunan laba ini terutama diakibatkan oleh adanya keuntungan signifikan dari pelepasan aset tetap pada tahun 2024 yang tidak terulang pada tahun 2025, ditambah dengan tekanan dari volatilitas harga bahan bakar bunker. Kondisi tersebut menyebabkan margin kotor turun menjadi Rp 797 miliar dari Rp 900 miliar pada tahun sebelumnya.

Di sisi lain, aset perusahaan menunjukkan pertumbuhan yang sangat positif. Total aset meningkat 19,9% menjadi Rp 5,29 triliun, dari sebelumnya Rp 4,41 triliun pada tahun 2024. Hal ini menegaskan posisi keuangan perseroan yang kuat dan potensi pertumbuhan signifikan di masa mendatang.