EnvyTech — JAKARTA – Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kini dianggap telah terbebas dari berbagai sentimen negatif, termasuk efek dari MSCI. Kondisi ini disebut-sebut sebagai waktu yang tepat untuk mengakumulasi saham AMMN, terlebih dengan harganya yang saat ini tergolong rendah.
Theodorus Melvin, seorang Investment Analyst dari Stockbit Sekuritas, menyatakan bahwa dua penyebab utama tekanan negatif pada saham AMMN telah usai. Sebelumnya, saham AMMN telah mengalami koreksi signifikan, mencapai 52% secara year-to-date dan 79% dari level tertinggi sepanjang masa pada Mei 2024.
Koreksi harga tersebut disebabkan oleh dua faktor non-struktural. Faktor pertama adalah transisi operasional tambang dari fase 7 ke fase 8 serta penghentian sementara (shutdown) smelter, yang mengakibatkan proyeksi laba bersih tahun 2025 terpangkas 61% secara tahunan. Faktor kedua adalah aksi jual paksa (forced selling) setelah AMMN dikeluarkan dari indeks MSCI, yang berlaku efektif pada 29 Mei 2026.
Akan tetapi, pemulihan kinerja operasional Amman (AMMN) telah terlihat jelas pada kuartal I-2026, ditandai dengan kenaikan produksi konsentrat sebesar 110% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Tekanan jual yang bersumber dari MSCI telah berakhir,” tutur Melvin dalam analisisnya pada Selasa (2/6/2026). “Kami mengamati bahwa level harga saat ini menarik untuk mengumpulkan saham AMMN. Meskipun risiko ‘index overhang’ lanjutan dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dan MVGDX masih ada, skalanya jauh lebih kecil dibandingkan dampak eksklusi MSCI.”
Dari sisi operasional, estimasi menunjukkan laba bersih AMMN berpotensi meningkat empat kali lipat pada tahun 2026 dan enam kali lipat pada tahun 2027.
Proyeksi laba bersih AMMN diperkirakan melonjak 307% secara tahunan, dari US$ 249 juta pada tahun 2025 menjadi US$ 1 miliar pada tahun 2026. Selanjutnya, pada tahun 2027, laba bersih AMMN diprediksi mencapai US$ 1,6 miliar (meningkat 57% year-on-year), atau enam kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahun 2025.
Melvin menjelaskan, “Proyeksi ini kami dasarkan pada ekspektasi peningkatan kadar emas di fase 8, percepatan utilisasi smelter dan refinery, harga tembaga dan emas yang kuat, serta keuntungan tak terduga (windfall) dari asam sulfat.”
Potensi Kenaikan Harga Saham
Dari perspektif valuasi, saham AMMN dinilai cukup atraktif sebagai aset premium. Dengan harga Rp 3.110, saham ini diperdagangkan pada estimasi valuasi P/E tahun 2026 sebesar 12,7 kali dan EV/EBITDA sebesar 8,4 kali. Angka-angka ini berada di bawah rata-rata perusahaan sejenis di sektor tembaga-emas global yang memiliki P/E di atas 20 kali dan EV/EBITDA sekitar 11 kali.
Valuasi saham AMMN bahkan terlihat lebih rendah dengan estimasi P/E tahun 2027 sebesar 7,8 kali dan EV/EBITDA mencapai 5,7 kali.
Apabila diasumsikan valuasi AMMN akan mengalami “re-rating” atau penyesuaian ke level kompetitor, maka potensi kenaikan harga (upside) dapat mencapai Rp 4.510. Angka ini mencerminkan EV/EBITDA 11 kali, dengan potensi kenaikan harga saham AMMN sebesar 45%.
“Atau, bisa mencapai Rp 4.900 dengan P/E 20 kali – yang masih tergolong konservatif di bawah rata-rata perusahaan sejenis. Ini menunjukkan potensi kenaikan sebesar 58% berdasarkan proyeksi tahun 2026,” tutup Melvin.
Ikuti EnvyTech
