— JAKARTA – Harga emas global mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Kenaikan ini terjadi saat investor memantau perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih berada dalam ketidakpastian.

Pada saat penulisan berita ini, harga emas menunjukkan penguatan sebesar 0,06%, mencapai level US$ 4.487,49 per ons troi. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga mengalami kenaikan 0,23%, ditutup pada US$ 4.516,97 per ons troi.

Ilya Spivak, Kepala Riset Makro Global Tastylive, menjelaskan bahwa pasar awalnya mengharapkan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Hal tersebut diharapkan dapat memuluskan jalan menuju kesepakatan yang lebih komprehensif. Namun, kedua belah pihak dilaporkan masih berpegang teguh pada tuntutan mereka, mengakibatkan belum adanya kesepakatan.

“Pasar sempat berharap akan adanya perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari pada akhir pekan lalu. Namun, kedua belah pihak tampaknya masih mempertahankan garis merah mereka sehingga kesepakatan belum terwujud,” kata Spivak.

Sentimen positif pasar turut didorong oleh pengumuman Lebanon terkait gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel. Langkah ini dipandang sebagai upaya deeskalasi konflik yang terbatas, menyusul ribuan korban jiwa dan eskalasi ketegangan regional yang turut menyeret Iran.

Sebelumnya, Teheran dilaporkan menghentikan sementara perundingan tidak langsung dengan AS, bahkan membuka opsi untuk mengakhiri gencatan senjata terkait konflik di Lebanon. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa dialog dengan Iran tetap berjalan dengan intensif.

Menanti Data Ketenagakerjaan AS

Para investor saat ini mengalihkan perhatian pada sejumlah data ekonomi krusial dari AS, seperti laporan nonfarm payrolls (NFP) dan data ketenagakerjaan yang dijadwalkan rilis akhir pekan ini. Informasi ini dianggap vital untuk mengevaluasi kekuatan pasar tenaga kerja AS, terutama di tengah meningkatnya tekanan inflasi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Di samping itu, pasar juga memantau dengan saksama pernyataan dari para pejabat Federal Reserve (The Fed), termasuk Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dan Gubernur The Fed Michael Barr, demi mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga ke depan.

Menurut Spivak, secara teknis, emas masih berpotensi untuk mengalami kenaikan. Namun, logam mulia ini perlu berhasil menembus area resistensi krusial di sekitar US$ 4.900 per ons troi. “Jika emas mampu kembali bertahan di atas level psikologis US$ 5.000, itu akan menjadi sinyal bahwa tren kenaikan jangka panjang kembali menguat,” paparnya.

Pergerakan serupa juga terlihat di pasar logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 0,5% mencapai US$ 75,21 per ons troi. Platinum juga menguat 0,5% menjadi US$ 1.932,50 per ons troi, sementara paladium justru melemah 0,4% ke level US$ 1.356,90 per ons troi.