EnvyTech — JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau kembali menarik minat investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 2 Juni 2026. Pergerakan ini menandai perubahan tren, mengingat sebelumnya saham BBCA kerap menjadi target utama penjualan oleh investor global.
Menurut data BEI hingga penutupan sesi I perdagangan hari itu, investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) pada saham BBCA senilai Rp 69,5 miliar. Angka tersebut dihitung berdasarkan harga rata-rata saham pada sesi pertama, dengan volume transaksi mencapai 12 juta saham.
Meskipun nilainya tergolong tidak terlalu besar, saham BBCA berhasil menempati posisi ketiga dalam daftar tiga teratas pembelian bersih oleh investor asing. Transaksi net buy tersebut berlangsung di pasar reguler BEI.
Sementara itu, secara keseluruhan, investor asing masih mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 354,2 miliar pada sesi pertama perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 2 Juni 2026.
Pada waktu yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan signifikan sebesar 91,47 poin atau 1,49%, mencapai level 6.218,8. Saham BBCA sendiri terpantau menguat 2,1% menjadi Rp 5.825.
Sebelumnya, MNC Sekuritas telah mempertahankan rekomendasi ‘beli’ untuk saham BBCA. Kendati demikian, target harga saham BBCA direvisi turun menjadi Rp 8.700 dari proyeksi awal Rp 10.500.
Penetapan target harga tersebut merefleksikan estimasi valuasi Price to Book Value (PBV) sebesar 3,4 kali untuk tahun 2026 dan 3 kali untuk tahun 2027. Hal ini juga selaras dengan penyesuaian tingkat imbal hasil yang diharapkan investor (cost of equity/CoE) menjadi 7,5%.
MNC Sekuritas memproyeksikan bahwa pertumbuhan Pre-Provision Operating Profit (PPOP), peningkatan efisiensi yang berkesinambungan, serta struktur permodalan yang kokoh akan menopang stabilitas laba BBCA. Prediksi ini tetap berlaku meskipun terdapat tekanan jangka pendek pada Net Interest Margin (NIM).
Adapun risiko utama yang diidentifikasi adalah potensi perlambatan pertumbuhan kredit dan memburuknya kondisi ekonomi makro.
Ikuti EnvyTech
