— JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 membukukan surplus sebesar US$ 0,09 miliar. Angka ini menandai kelanjutan tren surplus, namun sekaligus menjadi titik terendah yang dicapai dalam kurun waktu 72 bulan atau enam tahun terakhir.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, menjelaskan dalam konferensi pers di Kantor BPS pada Selasa (2/6/2026) bahwa, “Pada bulan April 2026, Indonesia masih mencatat surplus sebesar US$ 0,09 miliar, yang merupakan surplus terendah dalam 72 bulan terakhir.”

Pada periode April 2026, total nilai ekspor mencapai US$ 25,3 miliar, sementara impor tercatat sebesar US$ 25,21 miliar. Neraca perdagangan sektor nonmigas menunjukkan surplus signifikan sebesar US$ 3,53 miliar. Sebaliknya, neraca perdagangan komoditas migas mengalami defisit senilai US$ 3,44 miliar.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia dari Januari hingga April 2026 berhasil mencatatkan surplus sebesar US$ 5,64 miliar. Surplus ini terutama didorong oleh sektor nonmigas dengan nilai US$ 14,16 miliar, sedangkan sektor migas menunjukkan defisit sebesar US$ 8,52 miliar.

Jika ditinjau secara keseluruhan, negara-negara yang memberikan kontribusi surplus terbesar untuk gabungan sektor migas dan nonmigas adalah Amerika Serikat dengan US$ 5,76 miliar, India sebesar US$ 4,41 miliar, dan Filipina sebesar US$ 2,93 miliar. Untuk neraca perdagangan nonmigas saja, tiga penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat (US$ 6,81 miliar), India (US$ 4,44 miliar), dan Filipina (US$ 2,77 miliar).

Surplus kumulatif perdagangan nonmigas periode Januari-April 2026 terus ditopang oleh kinerja positif dari lima komoditas utama. Komoditas tersebut meliputi lemak dan minyak hewan/nabati (US$ 11,71 miliar), bahan bakar mineral (US$ 8,34 miliar), besi dan baja (US$ 5,71 miliar), nikel dan produk turunannya (US$ 4,26 miliar), serta alas kaki (US$ 2,14 miliar).

Pudji Ismartini menambahkan, nilai ekspor kumulatif sepanjang Januari hingga April 2026 mencapai US$ 92,15 miliar, menunjukkan peningkatan sebesar 5,48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini didominasi oleh sektor industri pengolahan yang nilai ekspornya tumbuh 9,78% menjadi US$ 75,57 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengidentifikasi China, Amerika Serikat, dan India sebagai tiga pasar utama ekspor nonmigas Indonesia. Kontribusi gabungan dari ketiga negara ini mencapai 44,52% dari keseluruhan ekspor nonmigas Indonesia dalam periode Januari-April 2026. China memimpin sebagai pasar ekspor utama dengan nilai US$ 22,76 miliar (25,93%), diikuti Amerika Serikat sebesar US$ 10,17 miliar (11,59%), dan India dengan US$ 6,14 miliar (7%).

Komoditas besi dan baja, nikel dan produk turunannya, serta bahan bakar mineral menjadi penyumbang utama ekspor nonmigas ke China selama Januari-April 2026. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik beserta suku cadangnya, alas kaki, serta pakaian dan aksesori rajutan.

Adapun nilai impor kumulatif Indonesia hingga April 2026 mencapai US$ 86,51 miliar, menunjukkan kenaikan 13,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor nonmigas menjadi kontributor utama peningkatan ini, dengan nilai impor US$ 73,58 miliar atau naik 12,7%. Sementara itu, impor migas tercatat sebesar US$ 12,93 miliar, melonjak 17,58%.

Berdasarkan kategori penggunaan, impor selama Januari-April 2026 mengalami peningkatan pada barang modal, bahan baku/penolong, dan barang konsumsi. Impor bahan baku/penolong tetap mendominasi dengan nilai US$ 61,82 miliar, naik 11,67%. Impor barang modal mencapai US$ 17,11 miliar, naik 19,02%, dan impor barang konsumsi tercatat US$ 7,58 miliar, tumbuh 15,68%.