EnvyTech — NEW YORK – Harga emas global mengalami penurunan signifikan sebesar 1% pada perdagangan awal pekan, Senin (1/6/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi, sekaligus memperkuat pandangan bahwa bank sentral akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama.
Logam mulia di pasar spot ditutup merosot 1,2% menjadi US$ 4.484,86 per ons. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya sempat mencapai level puncak dalam dua pekan pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Sementara itu, harga kontrak berjangka emas di Amerika Serikat (AS) juga tercatat melemah 1,7%, mengakhiri sesi pada posisi US$ 4.514,95 per ons troi.
Penguatan nilai tukar dolar AS turut memberikan tekanan pada harga emas, menjadikannya lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyatakan bahwa “Ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi dalam waktu lebih lama akan terus menekan emas, kecuali imbal hasil obligasi berhenti naik dan mulai stabil atau turun.”
Dari perspektif geopolitik, Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS. Tindakan ini merupakan respons atas serangan AS terhadap target militer Iran pada akhir pekan sebelumnya. Kendati demikian, Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bahwa dialog dengan Iran masih berjalan dengan “kecepatan tinggi”.
Kenaikan harga minyak yang dipicu oleh konflik tersebut memperparah kekhawatiran inflasi. Situasi ini berpotensi mendorong bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga guna meredam tekanan harga.
Berdasarkan data dari CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memproyeksikan peluang sekitar 54% untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga AS hingga akhir tahun. Meskipun emas sering dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, daya tariknya cenderung berkurang dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Para pelaku pasar saat ini menantikan rilis rangkaian data tenaga kerja AS yang dijadwalkan pekan ini, serta pernyataan dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed), untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter mendatang.
Analis Saxo Bank, Ole Hansen, berpendapat bahwa “Begitu situasi geopolitik stabil dan dampak lonjakan energi mereda, investor akan kembali fokus pada tema struktural yang menopang tren bullish emas dalam beberapa tahun terakhir.”
Hansen menambahkan, bank sentral di seluruh dunia diperkirakan akan tetap menjadi pembeli bersih emas selama setahun ke depan.
Selain emas, harga perak juga mengalami penurunan 0,55% menjadi US$ 74,86 per ons. Berbeda dengan perak, harga platinum justru menguat 0,43% ke US$ 1.928,79 per ons, dan paladium naik 0,33% mencapai US$ 1.362,68 per ons.
Morgan Stanley mengamati bahwa pasar paladium bergerak menuju keseimbangan. Hal ini disebabkan oleh pasokan yang terbatas diimbangi oleh pelemahan permintaan dari sektor otomotif.
Ikuti EnvyTech
