EnvyTech — JAKARTA – Matt Hicks, President dan CEO Red Hat, mengungkapkan bahwa meskipun model sering disebut sebagai pendorong utama kecerdasan buatan (AI), dalam konteks perusahaan, model tanpa keterampilan atau skill spesifik ibarat kendaraan berperforma tinggi yang tidak memiliki kemudi.
“Di Red Hat, kami menghabiskan setahun terakhir untuk memperdalam perjalanan AI kami sendiri. Kami belajar bahwa meskipun model paling mutakhir adalah titik awal yang kuat, nilai terbesar sebenarnya bukan hanya terletak pada prompt, melainkan pada kemampuan membangun evaluasi dan framework yang memungkinkan AI bekerja dengan transparansi dan logika yang dapat diverifikasi,” ujar Matt dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Senin (1/6/2026).
Ia menambahkan, pihaknya menghadirkan praktik-praktik terbaik untuk membantu agen otonom agar dapat menggunakan dan memaksimalkan layanan berlangganan Red Hat secara efektif.
“Konsepnya sederhana, namun kuat. Skill adalah pengetahuan spesifik yang memungkinkan agen AI menjalankan tugas dalam ekosistem tertentu, mulai dari melakukan patching, memindai log, hingga melakukan troubleshooting kode,” jelasnya.
Penggabungan skill dari Red Hat ini, lanjut Matt, memungkinkan individu untuk menerapkan kemampuan spesifik pada layanan berlangganan Red Hat. Ini termasuk mencari informasi di basis pengetahuan (knowledge base), membuka tiket dukungan (support ticket) yang telah dioptimalkan, hingga menjelajahi berbagai kapabilitas Red Hat Lightspeed.
“Kami memberikan kemampuan untuk membekali semua agen AI dengan seluruh nilai dan kapabilitas dari langganan Red Hat yang dimiliki,” tambahnya.
Lebih lanjut, Matt Hicks menegaskan bahwa pergeseran menuju agen AI yang terampil dan otonom tidak dimaksudkan untuk menggantikan keahlian para pembangun (builder), pengembang (developer), maupun operator. Sebaliknya, pendekatan ini justru dirancang untuk memperkuat kemampuan mereka.
Pekerjaan bernilai tinggi kini bergeser fokusnya ke arsitektur siklus hidup AI itu sendiri. Dengan menyediakan jalur operasional bagi AI, Red Hat memungkinkan setiap departemen, dari legal hingga IT, untuk mengintegrasikan keahlian mereka menjadi bagian dari DNA digital perusahaan.
“Kami bahkan selangkah lebih jauh, bukan sekedar menyediakan struktur tersebut; tetapi juga menggunakannya secara internal di perusahaan. Agen riset kami kini sebagian besar berjalan di atas model open source yang di-host di infrastruktur kami sendiri, dan pendekatan ini mulai mengubah cara Red Hat beroperasi setiap hari,” ungkap Matt.
Menurutnya, masa depan AI bukan sekadar peta jalan (road map) di slide presentasi, melainkan sesuatu yang dibangun dari pengalaman nyata di lingkungan produksi.
“Kami mengajak untuk bergerak melampaui hype AI dan mulai membangun dengan fondasi yang benar-benar dapat dipercaya. dengan agentic skill yang benar-benar relevan dan dibutuhkan,” pungkas Matt Hicks.
Ikuti EnvyTech
