— MATARAM – Sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) menghadapi dampak serius dari kenaikan harga minyak global yang berpadu dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Situasi ini sangat terasa mengingat NTB sangat bergantung pada kunjungan wisatawan domestik.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Sahlan M. Saleh, menyatakan bahwa jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke wilayah tersebut kini menunjukkan penurunan drastis bila dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu.

“Jika dibandingkan dengan periode yang sama, kami mencatat penurunan kunjungan wisatawan domestik sekitar 40 hingga 60 persen,” ungkap Sahlan pada Senin (1/6/2026).

Penurunan ini, lanjut Sahlan, tidak dapat dipisahkan dari lonjakan biaya perjalanan, khususnya harga tiket pesawat yang melambung tinggi. Faktor penyebabnya adalah dampak kenaikan harga minyak dunia serta pelemahan rupiah yang memengaruhi berbagai komponen dalam industri transportasi.

Sahlan menguraikan bahwa kenaikan harga tidak hanya terbatas pada tiket pesawat. Biaya untuk transportasi darat, penginapan, dan kebutuhan konsumsi juga mengalami penyesuaian harga, yang pada akhirnya menambah beban finansial bagi masyarakat yang berencana untuk berlibur.

“Dampak pelemahan rupiah ini sungguh terasa berat saat kami menghadapi pasar wisatawan domestik. Harga tiket pesawat melonjak tajam, diikuti oleh kenaikan pada komponen-komponen lainnya,” ujarnya.

Situasi ini mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata. Banyak calon wisatawan yang akhirnya memilih untuk menunda rencana liburan atau mengurangi frekuensi kunjungan karena besarnya anggaran yang kini diperlukan.

Sebaliknya, kunjungan turis mancanegara ke NTB justru menunjukkan tren yang stabil dan positif. Akan tetapi, peningkatan ini belum cukup signifikan untuk mengimbangi penurunan jumlah wisatawan domestik yang selama ini menjadi pendorong utama sektor pariwisata lokal.

Sahlan menyampaikan bahwa jumlah turis asing mengalami kenaikan sekitar 5 hingga 10 persen. Namun, pertumbuhan ini belum bisa dikatakan sangat signifikan, sebab sebagian besar rencana perjalanan wisatawan internasional sudah disusun jauh sebelum kedatangan mereka ke Indonesia.

“Wisatawan asing kami memang meningkat sekitar 5 sampai 10 persen. Namun, ini tidak terlalu signifikan karena perjalanan mereka sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya,” paparnya.

Saat ini, BPPD NTB, bekerja sama dengan para pelaku industri pariwisata, gencar berupaya memperluas jangkauan pasar wisatawan mancanegara. Salah satu strategi yang diterapkan adalah mengadakan promosi destinasi melalui kegiatan famtrip yang diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai negara.

“Kami menerima kunjungan 37 orang dari 14 negara untuk mengikuti famtrip, dengan tujuan mempromosikan produk pariwisata Indonesia, terutama Lombok dan Sumbawa,” tutur Sahlan.

Kendati demikian, ia menekankan bahwa pasar domestik tetap menjadi fokus utama, mengingat kontribusinya yang besar terhadap pergerakan ekonomi sektor pariwisata di NTB.

Guna mengatasi situasi ini, Sahlan berharap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang efektif untuk kembali merangsang minat masyarakat berwisata. Salah satu solusi yang dianggap potensial adalah penyediaan insentif berupa subsidi tiket pesawat.

“Tentu saja, harapan kami adalah penguatan ekonomi nasional. Selain itu, insentif dari pemerintah bagi wisatawan, misalnya melalui subsidi tiket pesawat, sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ke daerah,” paparnya.

Para pelaku industri pariwisata menaruh harapan besar agar kebijakan tersebut dapat membantu menekan biaya perjalanan, sehingga masyarakat kembali termotivasi untuk berlibur. Dengan demikian, sektor pariwisata NTB, yang merupakan salah satu motor penggerak ekonomi daerah, dapat kembali bangkit dan bergerak lebih kuat di tengah tantangan ekonomi global.