EnvyTech — JAKARTA – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) sebanyak 50 basis poin hingga mencapai 5,25% berpotensi menghambat laju penjualan mobil, yang sebelumnya menunjukkan tren positif. Segmen kendaraan roda empat tingkat pemula (entry-level) dan menengah ke bawah dipandang sebagai yang paling rentan terhadap dampak ini.
Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, menjelaskan bahwa potensi perlambatan ini cukup signifikan mengingat sekitar 70% dari total pembelian mobil dibiayai melalui skema kredit. Peningkatan suku bunga acuan ini akan secara bertahap meningkatkan biaya dana, meskipun efeknya terhadap suku bunga kredit mungkin tidak langsung terasa.
Ia menambahkan, sebelum penyesuaian ini, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) pada Februari 2026 tercatat turun menjadi 8,63%, diikuti penurunan suku bunga kredit rupiah pada Maret 2026. Namun, pasca kenaikan BI-Rate, lembaga perbankan dan multifinance diperkirakan akan lebih cermat dalam menetapkan suku bunga, uang muka, serta proses persetujuan kredit. Pernyataan ini disampaikannya pada Senin (1/6/2026).
Menurut Josua, segmen kendaraan roda empat tingkat pemula dan menengah ke bawah adalah yang paling mudah terdampak karena kelompok pembeli ini sangat peka terhadap besaran cicilan bulanan. Meskipun strategi perpanjangan tenor kredit dapat membantu menjaga keterjangkauan cicilan bulanan, langkah ini tidak seharusnya dianggap sebagai solusi primer.
Bagi konsumen, tenor yang lebih panjang memang berimplikasi pada cicilan yang lebih ringan, yang pada gilirannya dapat mempertahankan permintaan terhadap kendaraan. Namun, dari perspektif risiko, tenor panjang berarti total bunga yang dibayarkan akan lebih besar, nilai kendaraan akan menyusut lebih cepat dibandingkan sisa pokok pinjaman, dan risiko kredit bermasalah (NPL) akan meningkat jika pendapatan rumah tangga mengalami penurunan. “Oleh karena itu, perpanjangan tenor sebaiknya diterapkan secara selektif kepada debitur yang memiliki catatan pembayaran baik, rasio cicilan yang sehat, dan kendaraan dengan nilai jual kembali yang stabil,” jelasnya.
Sejalan dengan pandangan Josua, Yannes Martinus Pasaribu, seorang Pengamat Otomotif, menjelaskan bahwa strategi memperpanjang masa tenor kredit, misalnya dari lima tahun menjadi tujuh tahun, secara teoritis merupakan taktik pragmatis yang efektif untuk meredam guncangan pasar akibat kenaikan suku bunga. “Dengan memperpanjang tenor ini, jumlah cicilan bulanan bisa ditekan agar tetap sesuai dengan rasio kemampuan bayar konsumen di segmen menengah,” tuturnya.
Namun, Yannes memperingatkan bahwa strategi ini dapat menjadi pedang bermata dua. Dari sudut pandang konsumen, perpanjangan tenor akan menyebabkan total biaya kepemilikan (cost of ownership) membengkak secara signifikan karena akumulasi beban bunga yang lebih besar.
Sementara itu, bagi lembaga pembiayaan, risiko kredit macet (Non-Performing Loan/NPL) berpotensi meningkat, mengingat penurunan nilai kendaraan seiring waktu bisa lebih cepat daripada pelunasan sisa pokok pinjaman. “Strategi ini memang dapat menjaga volume penjualan dalam jangka pendek, namun tentu memerlukan tata kelola manajemen risiko yang ketat demi memastikan keberlanjutannya,” ujarnya.
Tekanan pada Sektor Pembiayaan Kendaraan
Sektor pembiayaan kendaraan bermotor mulai merasakan dampak langsung dari tekanan suku bunga. Tan Chian Hok, Chief Marketing & Sales Officer Astra Credit Companies (ACC), mengakui bahwa kenaikan BI-Rate sebesar 0,50% ini menjadi tantangan signifikan bagi industri pembiayaan otomotif.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar pembelian kendaraan di Indonesia masih sangat bergantung pada fasilitas kredit. Oleh karena itu, fluktuasi suku bunga memiliki pengaruh besar terhadap daya beli masyarakat untuk kendaraan baru. “Memang situasi saat ini tidak ideal. Minggu lalu BI telah menaikkan suku bunga sebesar 0,5%. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi sektor pembiayaan,” ungkap Tan.
Tan merinci bahwa sekitar 70% dari total pembelian kendaraan di Tanah Air dilakukan melalui skema kredit. Dengan demikian, kenaikan suku bunga akan secara langsung berdampak pada jumlah cicilan bulanan yang harus ditanggung oleh konsumen.
Di tengah kondisi ekonomi yang cenderung lebih sulit, masyarakat mulai menyesuaikan daya belinya. Konsumen yang sebelumnya sanggup membayar cicilan sebesar Rp 5 juta per bulan, kini mungkin hanya mampu membayar sekitar Rp 3 juta per bulan.
Guna menghadapi situasi ini, berbagai perusahaan pembiayaan mulai menyusun strategi untuk menjaga dinamika pasar. Salah satu pendekatan yang diambil adalah perpanjangan tenor kredit, yang bertujuan untuk menekan besaran cicilan bulanan. “Jika sebelumnya tenor tiga tahun, mungkin bisa menjadi empat tahun. Yang empat tahun bisa menjadi lima tahun. Kami berupaya memberikan fleksibilitas agar masyarakat tetap memiliki kesempatan untuk membeli kendaraan,” jelas Tan.
Ia juga mengemukakan bahwa perlambatan ekonomi justru kerap memicu peningkatan pembelian kendaraan secara kredit, berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi kuat dan indeks keyakinan konsumen tinggi yang cenderung didominasi pembelian tunai. Oleh karena itu, Tan melanjutkan, momentum pameran otomotif seperti GIIAS dianggap sangat krusial untuk mempertahankan pergerakan penjualan kendaraan di tengah tekanan ekonomi.
Bansar Maduma, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), menyatakan bahwa Toyota tengah melakukan observasi berkala mengenai implementasi kebijakan suku bunga acuan oleh bank komersial dan lembaga keuangan. Di sisi lain, pasar otomotif saat ini masih menunjukkan kondisi yang cukup positif. Penjualan Toyota mencatat pertumbuhan positif sebesar 42% pada bulan April, dengan volume wholesales mencapai 25 ribu unit.
Guna mempertahankan sentimen positif ini, Bansar menjelaskan bahwa Toyota, bersama jaringan dealer dan mitra pembiayaan, terus berupaya menyediakan paket pembelian yang kompetitif dan relevan dengan kebutuhan konsumen. Penawaran tersebut meliputi opsi uang muka (DP) rendah, pilihan tenor yang lebih panjang, skema cicilan yang fleksibel, serta program Jaminan Harga Jual Kembali khusus untuk Veloz HEV. “Ke depan, kami berharap pemerintah dapat menciptakan keseimbangan antara pemulihan ekonomi dan pertumbuhan pasar otomotif nasional,” harapnya.
Prospek Pasar Cenderung Stagnan
Yannes memaparkan bahwa prospek pasar otomotif Indonesia, khususnya untuk mobil konvensional bermesin pembakaran internal (ICE), diproyeksikan akan cenderung stagnan atau hanya mengalami pertumbuhan tipis hingga akhir tahun 2026. Hal ini dipengaruhi oleh potensi peningkatan penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) setelah rencana insentif baru dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Tekanan suku bunga kredit yang tinggi, ditambah dengan melemahnya daya beli kelas menengah, jelas menjadi penghambat utama yang menahan laju penjualan domestik, terutama pada segmen mobil murah di pasar dalam negeri,” jelasnya.
Yannes juga menyarankan agar pertumbuhan yang lebih realistis saat ini sebaiknya diarahkan pada peningkatan ekspor, setidaknya sampai kondisi ekonomi makro Indonesia membaik dan daya beli masyarakat pulih. “Semoga ada tanda-tanda positif di paruh kedua tahun ini,” tambahnya.
Sementara itu, Josua menjelaskan bahwa prospek pasar otomotif Indonesia hingga akhir tahun 2026 diperkirakan akan moderat dan selektif. Permintaan masih didukung oleh tingkat keyakinan konsumen yang relatif stabil, dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada April 2026 berada di level optimis 123,0. Namun, tekanan suku bunga, depresiasi nilai tukar rupiah, dan daya beli kelas menengah akan menjadi faktor penghambat pemulihan penjualan. “Data wholesales periode Januari-April 2026 menunjukkan bahwa pasar masih aktif, namun persaingan semakin ketat, termasuk dari merek-merek kendaraan listrik,” pungkasnya.
Ikuti EnvyTech
